Peran Strategis Para Bandit Indonesia di Thailand

Peran Strategis Para Bandit Indonesia di Thailand

By : Heru Susetyo

Ketua Umum Permitha 2009 – 2010

Menempuh studi pascasarjana di Thailand (dalam bahasa Thai bachelor disebut ‘bandit’, master disebut ‘maha bandit’, dan doctor disebut ‘dusadee bandit’) barangkali adalah hal terakhir yang dipikirkan oleh mahasiswa Indonesia yang memiliki peluang studi di luar negeri. Sebabnya bermacam-macam. Pertama, bisa karena gengsi, karena biasanya mahasiswa Indonesia merasa lebih digjaya ketika bisa studi di Amerika Serikat, Eropa, ataupun Australia. Kedua, adalah karena tak percaya Thailand memiliki kampus berkualitas. Maklumlah, selama ini citra Thailand melekat pada hal-hal yang berbau pariwisata, kuliner, hingga seksualitas. Padahal, data tahun 2008 dari Times Higher Education (THE) QS university ranking menempatkan empat universitas Thailand (Mahidol, Chulalongkorn, Chiang Mai dan Thammasat) dalam daftar 100 kampus terbaik di Asia dan satu kampus (Chulalongkorn University) dalam daftar 200 kampus terbaik di dunia. Ketiga, adalah kendala bahasa dan sosial budaya, termasuk makanan. Thailand memang bukan negeri berbahasa Inggris dan tidak menggunakan aksara Latin. Bahasanya adalah bahasa Thai yang konon campuran dari rumpun bahasa India, China, Khmer, dan lain-lain. Masalah sosial budaya juga berpotensi mengundang masalah karena sebagai negeri mayoritas Buddhist, tak dipungkiri agak sulit menemukan tempat ibadah dan makanan halal bagi mahasiswa Indonesia yang mayoritasnya muslim.

Namun, sejatinya Thailand adalah negeri Asia Tenggara yang menarik untuk jadi tujuan studi disamping Singapura, Malaysia dan Philippines. Alasan pertama adalah kualitas akademiknya yang tak kalah dengan negeri-negeri jirannya. Paling tidak ada beberapa kampus Thai bertaraf internasional seperti Chulalongkorn University, Asian Institute of Technology, Mahidol University, Thammasat University, Chiang Mai University, King Mongkut University, dan Prince of Songkhla University. Ketersediaan sejumlah professor lokal maupun asal luar negeri dengan kualitas akademik yang tak diragukan. Dukungan fasilitas pembelajaran yang lengkap. Fasilitas pelayanan mahasiswa apakah kesehatan, olahraga, kesenian, hingga dormitory yang komplit, dan yang utama adalah keramahan para sejawat mahasiswa Thai dan staf akademiknya yang mengokohkan citra Thailand sebagai ‘the land of smile’.

Alasan kedua adalah biaya studi dan biaya hidup yang murah. Hampir sama dengan di Jakarta. Dengan mutu pendidikan dan kehidupan yang juga tidak rendah Ketiga, adalah peluang untuk menikmati alam dan pengalaman sosial budaya. Kendati pemandangan alam Indonesia jauh lebih menawan, namun Thailand juga memiliki pantai indah Krabi, Phang Nga, Phuket, Ko Samui dan Ko Chang . Ada James Bond Island (lokasi shooting ‘the man with the golden gun’) dan Ko Phi Phi Island yang menjadi lokasi shooting film the Beach-nya Leonardo Di Caprio. Ada wisata pegunungan seperti di Kanchanaburi, Khao Yai, Chiang Mai, Doi Tung. Juga ada wisata sosial budaya di Chiang Mai dan Chiang Rai, ataupun kemungkinan mengunjungi negeri-negeri jiran yang berbatasan darat dan tak kalah cantik seperti Laos, Cambodia, Burma, dan Malaysia.

Alasan kelima adalah kemudahan visa dan transportasi. Sebagai Negara ASEAN, warga Indonesia dapat memasuki Thailand dengan bebas selama 30 hari. Transportasi udara-pun kini begitu mudah karena ada tiga penerbangan langsung dari Jakarta ke Bangkok (Thai Airways, Garuda Indonesia dan Air Asia) dan Denpasar – Bangkok dengan Air Asia dan Thai Airways. Yang menarik, tarif tiket Air Asia Jakarta-Bangkok pp seringkali lebih murah daripada Jakarta ke Aceh ataupun Jakarta ke bagian timur Indonesia. Maka, bagi teman-teman yang ingin pulang ke Indonesia setiap saat ataupun ingin mendatangkan keluarganya ke Thailand, insya Allah tidak terlalu sulit.

Mahasiswa Indonesia di Thailand minimal datang dari empat kategori. Pertama adalah mereka yang mendapatkan beasiswa untuk studi di Thailand apakah dari Indonesia, ASEAN, Jepang, atapun sumber lain. Kedua adalah mereka yang studi atas biaya sendiri atau karena mengikuti orangtua yang bekerja di Thailand, Ketiga adalah mereka yang belajar sebagai bagian dari misi keagamaan, baik Buddhist, Kristen, maupun Islam. Jangan salah, di Thailand juga ada kampus Kristen, antara lain kampus Advent (Mission College) di daerah Saraburi dan Payap University di Chiang Mai. Juga ada kampus Islam, seperti Yala Islamic University di Yala, Thailand Selatan. Keempat, adalah mahasiswa kedinasan yang mengikuti kursus, training, pertukaran pelajar, hingga mengambil degree tertentu atas mandat dari instansi atau institusinya di Indonesia, apakah departemen pertanian, kesehatan, kehutanan, pertahanan, dan lain-lain.

Pada tahun 2009 ini, sekitar 200 – 300 mahasiswa Indonesia menempuh studi di Thailand. Sebagian besar belajar dan tinggal di Bangkok area. Komunitas terbesar ada di Asian Institute of Technology, Pathum Thani (AIT), Assumption University/ ABAC, Rajamangala University of Technology Pathum Thani, Mahidol University, Chulalongkorn University, Mission College Saraburi, King Mongkut University, dan Thammasat University. Sebagian kecil di luar Bangkok seperti Prince of Songkhla University di Hat Yai, Chiang Mai University, Mae Fah Luang University di Chiang Rai, dan Burapha University di Bangsaen..

Rumpun studi paling banyak yang diminati mahasiswa Indonesia adalah kesehatan (kedokteran, keperawatan, public health, farmasi) pertanian, ilmu-ilmu alam, teknologi, dan ilmu-ilmu sosial (ekonomi-bahasa- HAM). Beberapa alumni perguruan tinggi Thailand kini banyak ditemui sebagai petinggi di jajaran Departemen Kesehatan, di kampus-kampus seperti UGM, ITB, maupun UI. Mengapa? Karena, memang, kampus Indonesia yang paling banyak menjalin kerjasama dengan kampus Thailand adalah UGM, ITB, Universitas Brawijaya, UII, Advent, dan sebagainya.

Mengenai peran strategis mahasiswa Indonesia, peran yang dapat dimainkan di Thailand amat terkait dengan perkembangan geopolitik Asia Tenggara dan ASEAN. Dimana pada tahun 2015 ASEAN akan menjadi masyarakat bersama di bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya. Indonesia dan Thailand selama ini menjadi negara yang memainkan peran penting di ASEAN. Deklarasi ASEAN dicetuskan di Bangkok pada 8 Agustus 1967 dan Indonesia adalah rumah bagi sekretariat tetap ASEAN, dimana Sekjennya sekarang juga orang Thailand, Dr Surin Pitsuwan. Kemudian, di Thailand kini bermarkas 25 kantor PBB (United Nations) dan beberapa kantor untuk regional program-nya. Singkat kata, Thailand telah menjadi hub untuk kegiatan internasional maupun regional yang tak dapat diabaikan begitu saja.

Lahirnya masyarakat ASEAN pada 2015 membuat ASEAN menjadi wilayah yang borderless. Akan terjadi kebebasan aliran barang dan jasa dan pergerakan personil professional dalam lingkup massive di ASEAN. Maka, menguasai sistem hukum, politik, ekonomi dan sosial budaya hingga bahasa negara-negara ASEAN akan memberikan benefit bagi bangsa ini. Apalagi, dengan mempelajari bahasa Thailand, paling tidak akan dapat membuka akses bagi komunikasi di tiga negara, di Thailand sendiri, Laos, dan sebagian kecil Kamboja.

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand alias Permitha sendiri adalah wadah tunggal dan payung bagi persatuan mahasiswa Indonesia yang belajar di Thailand. Berdiri pada tahun 2001 – 2002, hingga kini keanggotaan permitha telah meluas, dan telah juga memiliki banyak alumni. Sebagian besar alumni permitha, ataupun alumni Thailand sebelum Permitha lahir, kini telah menduduki posisi-posisi strategis di Indonesia. Sebagian mereka berlatar belakang kesehatan, teknologi, pertanian, ekonomi-sosial, dan lain-lain. Pengalaman berinteraksi dengan system pendidikan dan masyarakat Thailand, sedikit banyak membantu mereka sampai pada posisi puncak, sekaligus membantu kinerjanya sehari-hari ketika harus berurusan dengan masalah di Asia Tenggara.

Disamping itu, Permitha adalah juga wadah silaturrahmi dan persahabatan mahasiswa Indonesia di Thailand. Berada jauh dari tanah air membuat mahasiswa Indonesia memerlukan forum untuk silaturrahmi, kangen-kangenan, saling menimba ilmu satu sama lain, rekreasi hingga olahraga bersama. Ikatan silaturrahmi yang dibangun selama di Thailand adalah ikatan yang abadi, karena akan melekat terus hingga mereka kembali berada di tanah air dan kembali bekerja di instansi masing-masing. Modal silaturrahmi dan pertemanan yang pernah terjalin adalah suatu asset untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara tercinta ini dengan pendekatan yang lebih ‘Southeast Asian’ –based.

Viva Permitha !

Comments

comments