Simposium Internasional PPI 2010

Pada tanggal 23 dan 24 Oktober yang lalu, Simposium Internasional PPI se-Dunia 2010 telah dilaksanakan di KBRI London. Simposium ini melibatkan PPI yang tersebar di seluruh Dunia, termasuk Permitha Thailand. Simposium kali ini memiliki tema “Pendidikan Kewirausahaan sebagai Sarana untuk Meningkatkan Daya saing Pelajar Indonesia untuk Menjadi Wirausahawan yang Mandiri dan Inovatif”. Artikel ini akan melaporkan bagaimana jalannya Simposium tersebut.

Simposium ini dibuka pada tanggal 23 Oktober 2010 Pagi di Hall KBRI London. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya disambung dengan sambutan oleh Andrew Sutedja, Presiden pelaksana SI PPI 2010 di London. Namun di tengah sambutan, Bu Mari Elka Pangestu sudah tersambung di saluran teleconference. Beliau yang saat ini merupakan Menteri Perdangangan Indonesia, sedianya akan datang pada acara SI ini. Namun karena pada saat yang bersamaan beliau harus melaksanakan tugas negara ke Cina, maka beliau bersedia untuk memberi sambutan melalui teleconference. Beliau sangat mendukung tema yang diusung pada SI kali ini. Beliau menyampaikan bahwa untuk menjadi makmur, suatu negara memerlukan minimal 2% wirausahawan dari penduduknya. Padahal saat ini, Indonesia baru memiliki 0,08% wirausahawan. Ditambah dengan tingkat pengangguran yang semakin tinggi (9,8% dari lulusan PT tidak terserap), maka kewirausahaan menjadi salah satu solusi permasalahan yang ada saat ini. Poin penting lain adalah bahwa saat ini Indonesia sudah saatnya untuk tidak memikirkan ekspor dan impor. Namun Indonesia perlu memikirkan bagaiamana cara untuk membuat produk yang inovatif supaya dapat bersaing dengan produk dari luar negeri.

img_0116

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Yuri Octavian Thamrin, Duta Besar LBBP RI untuk United Kingdom. Beliau menyatakan dukungan penuh kepada acara yang dilaksakan oleh PPI se-Dunia ini. Beliau juga menekankan betapa pentingnya nilai kewirausahaan ini ditanamkan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa kita harus memiliki pola hidup seperti lebah, di mana lebah terbang berpindah-pindah dari satu taman ke taman yang lain hanya untuk mencari sari madu yang bermanfaat. Itu yang harus menjadi semangat para pelajar saat menuntut ilmu.

img_0127

Pembukaan dilanjutkan dengan keynote speech dari Bapak Dino Pati Djalal, Duta Besar LBBP RI untuk Amerika Serikat. Beliau menyampaikan paparan mengenai model kepemimpinan untuk menjawab krisis multidimensi di Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan efek dari adanya krisis kepemimpinan yang terjadi di masyarakat. Sehingga pelajar Indonesia sebagai calon pemimpin di masa depan harus memupuk kemampuan kepemimpinan saat studi sehingga di masa yang akan datang permasalahan ini tidak akan kembali terjadi.

img_0131

Setelah istirahat siang, agenda dilanjutkan dengan panel diskusi. Sabtu siang ini diisi dengan Panel I dengan tema “Kewirausahaan-Menjadi Wirausaha yang Tangguh dan Kometitif”. Panel ini dimoderatori oleh Jay Aryaputra Singgih dari PPI UK. Panel ini menghadirkan Thamrin Lubis (pendiri Indonesia Overseas Network), Rahmat Gobel (Direktur PT. Gobel Internasional), Merry Maryati (Atase Perdagangan RI untuk UK), dan Wahyu Aditya (Pendiri Hello, Motion Academy).

img_0150

Bapak Thamrin Lubis membuka Panel dengan paparan mengenai pentingnya pembentukan jaringan antara masyarakat Indonesia yang ada di Luar Negeri untuk bisa meningkatkan semangat kewirausahaan. Beliau sendiri sudah merintis jaringan ini, dan jaringan ini mencoba memberikan solusi bagi berbagai macam permasalahan yang ada di Indonesia. Kemudian pembicara berikutnya, Merry Maryati, menyampaikan berbagai macam data dari Kementrian Perdagangan mengenai kondisi kewirausahaan Indonesia saat ini. Selain itu, beliau juga memaparkan berbagai macam program dari Kementrian Perdagangan, salah satunya ada Creativepreneur. Program ini menekankan pentingnya inovasi dalam berwirausaha.

Selanjutnya, Wahyu Aditya membuat para peserta terpukau dengan berbagai ide yang inovatif. Peraih World Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category (2007) ini menyampaikan berbagai alternatif usaha yang inovatif, salah satunya adalah Kementerian Desain Republik Indonesia. Dengan landasan ingin memperkenalkan Indonesia, Wahyu Aditya membuat berbagai macam branding yang memuat desain dan slogan Indonesia. Panel dilanjutkan dengan paparan dari Bapak Rahmat Gobel. Beliau memaparkan berbagai pengalamannya sehingga beliau bisa menjadi pengusaha yang tangguh. Selain itu beliau sebagai anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) juga menekankan pentingnya inovasi dalam persaingan kewirausahaan. Dan poin penting yang lain adalah pentingnya menjaga kepercayaan yang diberikan untuk bisa sukses. Salah satu panelis yang tidak dapat datang, Rahmat Pambudy, walaupun tidak bisa datang namun memberikan paparan yang dapat diunduh di sini.

img_0170

Setelah acara makan malam, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif dengan Bima Arya Sugiarto, Direktur Eksekutif dari Institut Kepemimpinan Paramadina. Beliau memaparkan kondisi Indonesia saat ini, dan menyampaikan pentingnya bersikap kritis sebagai penyeimbang sistem kepemimpinan yang telah berjalan di Indonesia saat ini.

Pada tanggal 24 Oktober 2010, agenda dibuka dengan panel II yang bertemakan: “Kepemimpinan-Model Kepemimpinan dalam Menjawab Krisis Multidimensi di Indonesia”. Panel ini dimoderatori oleh Ananda Setiyo Ivannanto dari PPI Jepang. Panel ini diisi oleh James Gillford (Direktur Eksekutif dari United Nations (UN) Principles for Responsible Investment (PRI), Michael Putrawenas (CO2 Policy Strategist, Shell Company, Netherlands), dan Turino Yulianto (Sekjen Gerakan Nasional Kepedulian Sosial).

img_0264

James Gillford membuka panel dengan memaparkan kepemimpinan dalam memecahkan permasalahan suatu bangsa. Beliau memberikan berbagai contoh permasalahan di dunia yang merupakan akibat dari kurangnya kepemimpinan di tempat tersebut. Selain itu, beliau yang sangat tertarik mempelajari tentang Indonesia ini, juga memaparkan berbagai program dan model yang telah dikembangkan UNPRI yang berkaitan dengan kepemimpinan. Selanjutnya Michael Putrawenas juga memaparkan pentingnya kepemimpinan melalui pengalamannya. Beliau yang sudah lama berkecimpung di dunia PPI dan juga dunia kerja, menyatakan efek dari kepemimpinan yang baik adalah terbentuknya jaringan yang baik. Jaringan tersebut dapat bermanfaat dalam penyelesaian berbagai masalah. Setelah itu, Turino Yulianto menawarkan satu kata kunci: Kemiskinan, sebagai fokus untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Kata kunci tersebut dapat digunakan sebagai landasan penentuan berbagai macam kebijakan di masa yang akan datang untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia.

Setelah istirahat makan siang, agenda dilanjutkan dengan Panel III dengan tema “Pendidikan-Membentuk Akademisi Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Global”. Panel ini dimoderatori oleh Andrew Sutedja dari PPI UK. Panel ini diisi oleh Bapak Himahanto Juwana dari Universitas Indonesia, Jaka Aminata dari Universite Paul Verlaine-Metz Prancis, dan Antonius Tanan, Presiden Ciputra University Entrepreneurship Center.

img_0315

Bapak Himahanto Juwana menyampaikan bagaimana kondisi pendidikan Indonesia saat ini, di mana pendidikan vokasi kurang diminati dibandingkan pendidikan sarjana. Pendidikan vokasi dianggap sebagai “warga kelas dua” sehingga peminatnya kurang banyak. Hal ini dipahami sebagai kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pendidikan vokasi. Sebab pendidikan vokasi justru lebih cocok dalam mencetak tenaga kerja dan wirausahawan. Sehingga saat ini pemerintah juga mulai menggalakkan promosi untuk sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Makalah beliau dapat diunduh di sini dan paparan beliau dapat diunduh di sini. Bapak Jaka Aminata memberikan contoh model pendidikan yang saat ini berlangsung di Prancis. Beliau menekankan bahwa pola pendidikan yang lebih memberikan kesempatan pada keminatan akan memberi hasil yang lebih baik. Kemudian Bapak Antonius Tanan memberikan contoh langsung bagaimana pendidikan kewirausahaan itu diberikan pada lembaga beliau. Lembaga pendidikan beliau langsung memberikan contoh dan praktik kewirausahaan sehingga setiap mahasiswanya bukan berpikir untuk bekerja, namun berpikir untuk menciptakan lapangan kerja.

Panel kemudian ditutup, dan dibentuklah komisi-komisi yang mendiskusikan rekomendasi yang dapat diberikan oleh PPI se-Dunia untuk Indonesia. Salah satu hasil dari rekomendasi tersebut adalah perlu dibentuknya Perlunya dibentuk Indonesian Young Entrepreneurs Initiatives (IYEI) yang akan dimotori oleh PPI.

img_0339

Pada malam harinya, diadakan pertemuan antar perwakilan PPI se-Dunia untuk mendeklarasikan Overseas Indonesian Student Association Alliance (OISAA) sebagai forum komunikasi antar PPI yang ada di Dunia untuk menjalin kerjasama. Pembentukan jejaring ini diyakini akan sangat bermanfaat bagi pelajar Indonesia di masa yang akan datang. Setelah menandatangani deklarasi, secara mufakat PPI Australia terpilih sebagai koordinator OISAA dan PPI Prancis terpilih sebagai wakil koordinator OISAA.

img_0342

Demikian jalannya SI PPI 2010 di London. Begitu banyak manfaat yang didapat melalui pertemuan ini. Semoga melalui pertemuan ini dan dibentuknya OISAA, Permitha Thailand dapat semakin memberikan kontribusi dalam kegiatan PPI se-Dunia dan juga memberikan solusi terhadap berbagai macam permasalahan bangsa. Pembentukan jaringan kerjasama ini merupakan langkah awal yang baik untuk cita-cita tersebut. (FW)

dsc_0824

Foto by FW dan Ananda Setiyo Ivannanto dari PPI Jepang.

Comments

comments