Eksistensi Gado-Gado Dalam Acara Annual Conferrence Asean Economic Community(AEC)

gado

Hari minggu tanggal 31 Maret 2013, mahasiswa Indonesia dari Asian Institute of Technology (AIT) berpartisipasi dalam sebuah kegiatan tahunan dalam “Annual Conferrence Asean Economic Community (AEC) yang dilaksanakan di Sirindhorn Science Home (Science Park), Thailand yang diadakan dari tanggal 31 Maret s.d 03 April 2013. Sebelumnya, acara tahunan ini dikoordinasi oleh badan lainnya. Acara tersebut diorganisir oleh sebuah badan yang dinamakan NSTDA (National Science and Technology Development Agency).

Dalam kesempatan ini, Tim Seni & Budaya PERMITHA (Ariz) berhasil mewancarai salah satu mahasiswa Indonesia dari  Asian Institute of Technology  (AIT). “Nur Isti’anah ketika pertama kali memperkenalkan diri dan lebih akrab jika dipanggil Iis”, sapanya. Dia adalah mahasiswa AIT jurusan Master Food Engineering pada semester kedua.  Kemudian, dia  adalah    lulusan dari S1 Teknik Kimia,  Institut Teknologi Surabaya  (ITS). Iis  berasal  dari  Desa Panjunan, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Dia mengatakan kegiatan yang telah dilaksanakan tersebut merupakan acara tahunan. Untuk tahun ini  dibarengi dengan kegiatan  Food Festival. Alhamdulillah sekali,”ungkapnya”.

Peserta yang ikut dalam acara tersebut berasal dari berbagai Negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam, Kamboja, Laos, Filipina, Singapura dan Brunei Darusalam; pokoknya lengkap, “ujarnya”. Peserta yang berasal dari AIT singkatnya, hanya dari negara Indonesia, Vietnam dan Myanmar. Sedangkan peserta dari negara-negara lain berasal dari universitas yang berbeda. Meskipun demikian, antusias mahasiswa Indonesia AIT khususnya sangat apresiasi terhadap kegiatan semacam ini, “ungkapnya”.

Gado2

Serangkaian kegiatan konferensi yang diadakan dalam tiga hari yaitu dari tanggal 31 Maret s.d 03 April 2013 dibarengi dengan seminar, job fair dan pastinya Science Park Food Festival. Namun, untuk kegiatan Science Park Food Festival hanya diadakan pada hari pertama tepatnya tanggal 31 Maret 2013 dan kegiatan Food Festival ini bertujuan untuk mempromosikan ciri khas dari masing-masing negara ASEAN yaitu salah satunya dengan memperkenalkan makanan khas. Jika teman-teman ingin melihat jadwal kegiatannya, silahkan kunjungi link dibawah ini:
http://www.nstda.or.th/nac2013/1-aboutus.php (dalam bahasa thai).

Menu makanan tradisional Indonesia yang ditampilkan di acara ini adalah Gado-Gado yaitu salad khas Indonesia dengan komposisi sayur-sayuran, telor dan tahu yang disiram dengan saus kacang yang dijamin bakalan membuat para pengunjung ingin merasakan kedahsyatannya. Alasan memilih Gado-Gado untuk ditampilkan dan diperkenalkan dalam acara tersebut karena menurut saya, cukup mudah dalam proses pembuatannya, bahan-bahan mudah diperoleh, dan untuk rasa, saya yakin bisa diterima oleh lidah berbagai negara,”opininya”.

Menu khas Gado-Gado dibuat oleh mahasiswa AIT yang tergabung dalam “Nani-Kore Kitchen” crew , sedangkan untuk racikan bumbu kacangnya tetap saya yang handle . “Nani-Kore Kitchen” crew adalah mahasiswa AIT yang kebetulan mempunyai hobi memasak dan biasanya kita adakan minimal 1 minggu 2 kali, bahkan hampir setiap hari kami buka lapak untuk menjual masakan-masakan Indonesia, “ucapnya”.

Awalnya, sasaran pelanggan kita masih di kalangan teman-teman sendiri. Namun, beberapa mahasiswa non-Indonesia pernah mencicipi dan mereka mengatakan bahwa rasanya enak seperti Cina, Pakistan, Thailand, Kamboja dan Myanmar. Semoga beberapa minggu ke depan bisa mendapatkan pelanggan non-Indonesia, “harapnya”. Jika teman-teman mahasiswa Indonesia berminat untuk memesan masakan-masakan Indonesia, kunjungi fun page kami:
https://www.facebook.com/pages/Nani-Kore-Kitchen/452088361527859?fref=ts

Saat itu, mahasiswa Indonesia AIT yang bertugas menjaga stan Gado-Gado pada awalnya hanya bertiga yaitu saya, Vely Kukinul (Jurusan Regional and Rural Development Planning) dan Vivin Setiani (Jurusan Environmental Engineering and Management). Akan tetapi, kemudian datang teman-teman mahasiswa Universitas Atmajaya yang sedang magang di Biotech Science Park untuk meramaikan stan Indonesia dan hal ini membuktikan bahwa apresiasi mahasiswa Indonesia sangat berperan penting dalam memperkenalkan budaya dalam hal ini makanan tradisional nusantara.

Beberapa menu andalan yang ditampilkan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Thailand (Tom Yum), Malaysia (Nasi Lemak), Laos (Amok), Myanmar (Lahpet), Vietnam (Lumpia Vietnam/Goi Cuon), Brunei Darusalam (Pindang Goreng, Tumis Kangkung dan Sambal Terasi), dan lain-lain. Walaupun semua negara memperkenalkan makanan khasnya, tetapi stan Indonesia menyajikan makanan yang paling enak. Hal ini dapat dibuktikan dari makanan yang disajikan sangat digemari oleh pengunjung bahkan menjadi stan pertama yang sajiannya habis. Pada mulanya, stan kami sepi pengunjung dan setelah jam 10 pagi, Gado-Gado yang kami sediakan langsung habis. Karena tingginya antusias pengunjung terhadap makanan Indonesia, sehingga salah satu dari kami rela untuk membeli piring kecil yang telah habis disediakan. Ada sekitar 40 porsi piring kecil habis sebelum acara selesai. Beberapa pengunjung tertarik dengan masakan Indonesia terutama dalam proses pembuatannya termasuk Direktur Sirindhorn Dormitory, “Ceritanya”.

Selama mengikuti kegiatan tersebut, kesan yang paling spesial yang saya rasakan ketika memperkenalkan dan berinteraksi dengan para pengunjung yaitu stan Indonesia menjadi pusat perhatian, satu-satunya stan yang memiliki banyak anggota ketika menyambut para pengunjung, makanan laris dan habis sebelum acara selesai. Saya senang sekali bisa memperkenalkan masakan Indonesia sekaligus memperkenalkan batik di publik,”terangnya”.

Harapan-harapan ke depannya dengan kegiatan seperti ini khususnya di Thailand adalah Indonesia lebih kreatif lagi, tidak hanya menunjukkan lezatnya makanan nusantara melainkan ditambah dengan memperkenalkan dan menunjukkan sisi budaya lain yang kita miliki, misalnya melalui pakaian, dekorasi, dan penjelasan tentang budaya dan panorama Indonesia dengan berinteraksi dan berkomunikasi dengan pengunjung acara secara persuasif agar mereka mau datang dan berkunjung ke Indonesia, “optimisnya”.

Pesan untuk mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) dan mahasiswa Indonesia di penjuru dunia (PPI Dunia) : “Dimanapun kita berada, sebisa mungkin untuk kita memperkenalkan budaya nusantara dan panorama keindahan pariwisata Indonesia serta jangan malu untuk mempromosikan makanan khas yang kita miliki walaupun hanya sekedar posting foto di Facebook, twitter dan sebagainya”. Saya sangat berterima kasih kepada pengurus PERMITHA saat ini, terutama departemen seni dan budaya yang telah bersedia dan susah payah meliput, mendokumentasikan dan mempublikasikan tentang budaya yang kita miliki khususnya keberadaan dan antusias mahasiswa Indonesia di Thailand dalam kancah promosi kebudayaan nusantara. Hal ini sangat penting dikarenakan semua informasi terbaru tentang kegiatan seni dan budaya dapat diinformasikan kepada teman-teman mahasiswa Indonesia di Thailand ataupun di Dunia. Menurut saya, informasi tersebut bisa mendeskripsikan bahwa di luar area mereka, masih ada saudara-saudara yang sedang memperkenalkan budaya nusantara sehingga secara langsung menjadi inspirasi bagi kita semua, “semangatnya”.

Dan yang terakhir, Saya berharap kepada teman-teman mahasiswa Indonesia di Thailand apabila di universitasnya terdapat kegiatan-kegiatan yang sifatnya mempromosikan kebudayaan Indonesia, mohon diinformasikan kepada Tim Divisi Seni & Budaya PERMITHA sehingga kegiatan liputan, dokumentasi dan publish dapat terus berjalan. Terima Kasih

Reporter    :   Ariz Qillah (Mahidol University)

Comments

comments