4th ASEAN Talk

asean talk 4

Departemen ASEAN Community PERMITHA dengan bangga

mempersembahkan ASEAN Talk yang ke-4 bertajuk :

“Transformasi Pemberdayaan Manfaat Energi dan Dampaknya di ASEAN”
Acara ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 17 Oktober 2015, mulai pukul 14.00 sd 16.30 di Ruang Ahmad Yani Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok.

Menghadirkan pembicara pertama, Dr. Didin Agustian, Environmental Engineering Management, Senior Research Engineer dan pembicara kedua, Dr. Yurdi Yasmi, Forest Policy Officer for Asia and The Pacific for the FAO of United Nations. Peserta diskusi akan diajak melihat lebih dalam bagaimana penggunaan energi selama ini di ASEAN, kebijakan pemerintah terkait energi, dan potensi energi alternatif yang dapat dimanfaatkan dan diberdayakan di masa datang untuk kelangsungan umat manusia dan isu-isu terhangat yang berkaitan dengan energi dan lingkungan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

~ Brainstorming and Hot Issues ~

Ironi dari perkembangan bio-fuel yang menjadi salah satu renewable clean energy membuat kita lupa akan keseimbangan lingkungan, terutama ekosistem hutan. Kasus kebakaran hutan yang menimpa Indonesia dan sampai mengganggu negara-negara tetangga itu rupanya memiliki “buntut” (trail) yang panjang. Pembakaran hutan yang terjadi di pulau Sumatra dan Kalimantan ini ditengarai oleh aktivis dari NGO Save Our Borneo memiliki perusahaan besar dan ternama yang bermain dibelakangnya.

“Asap tebal membuat sangat sulit bernafas. Pihak berwenang di Kalimantan dan Sumatra menyatakan situasinya sangat genting. „Seorang anak yang berumur 9 tahun, Intan, pingsan diperjalanan menuju sekolahnya dan meninggal saat dilarikan ke rumah sakit“, demikian Nordin di Kalimantan Tengah. „Ia tercekik oleh partikel asap yang berasal dari api tersebut yang sejak berminggu-minggu menghanguskan tanah kami.“ Intan bukanlah satu-satunya korban meninggal oleh kegiatan ilegal perusahaan yang membakar hutan – termasuk hutan di taman nasional dan hutan rawa gambut yang dilindungi. Pembakaran hutan di Indonesia dilarang keras.

„Ini semua akibat kerakusan akan minyak sawit,“ ujar Nordin. „Selalu lebih banyak minyak sawit untuk biofuel, perkebunan dan kebakaran.“ Aktivis lingkungan ini mengingatkan akan bencana nasional yang mengancam manusia, hewan dan hutan hujan serta iklim dunia.

Sejak berminggu-minggu berlangsung kebakaran di Jambi. Mitra kerja Selamatkan Hutan Hujan Feri Irawan dan Nordin dengan berani turun ke lokasi kebakaran untuk menemukan pelakunya dan membawanya ke pengadilan.

Sekurang-kurangnya polisi sedang mengusut 24 perusahaan. Beberapa manajer tinggi telah ditangkap, termasuk direktur perusahaan minyak sawit RKK. Perusahaan ini telah membakar 1000 hektar hutan gambut di Sumatra. RKK adalah anak perusahaan Gudang Garam.

„Kami menuntut tidak hanya produsen yang harus bertanggung jawab atas kejahatan disepanjang rantai penyuplaiannya, tapi juga semua perusahaan yang mengolah minyak sawit dari Indonesia menjadi barang konsumsi dan biofuel“, demikian Feri Irawan. „Mereka turut andil dalam kasus kebakaran ini.“ Diantaranya Unilever, Nestlé, Henkel dan perusahaan negara Finlandia Neste Oil yang memasok biodiesel ke pasar Eropa.” (Sumber : https://www.hutanhujan.org/petisi/1018/indonesia-perusahaan-penyebab-kebakaran-hutan-harus-dihukum?t=361)

Apakah pantas jika kita mengejar cita-cita “for the greater good of future (masa depan yang lebih baik)” dengan menyengsarakan “present generation (generasi saat ini)” ?

Seberapa besar sebenarnya prospek jangka pendek dan jangka panjang dari bio-fuel clean energy ini sehingga hutan pun rela untuk dibakar untuk digantikan dengan perkebunan kelapa sawit ?

Mungkin sudah saatnya kita berpikir ulang dan berpikir lebih keras lagi untuk menemukan alternatif yang lebih manusiawi bagi kelangsungan umat manusia itu sendiri dan alam tempat mereka bernaung.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“………..rekan-rekan di lembaga swadaya masyarakat cemas menyaksikan kemerosotan lingkungan. Pembangunan yang dilaksanakan di kebanyakan negara berkembang sudah membahayakan daya dukung alam guna menopang kehidupan manusia. Di Indonesia saja, luas areal hutan sudah amat menciut. Dikhawatirkan lima tahun lagi hutan dataran rendah Pulau Sumatera akan gundul, dan sepuluh tahun lagi nasib sama berlaku untuk Pulau Kalimantan.

Kondisi sungai-sungai Pulau Jawa sudah tercemar berat. Lautan di Indonesia bagian barat sudah terkuras ikannya melebihi kemampuan perkembang-biakannya, sehingga jumlah stok ikan di laut menciut. Pencemaran udara, terutama di kota-kota, sudah amat memprihatinkan dan berdampak luas pada naiknya korban akibat infeksi saluran pernapasan. Dan kerusakan lingkungan Indonesia berdampak global. Tahun 1997 kebakaran hutan Indonesia dan pembakaran tanah gambut telah melepaskan ke atmosfir 2,6 milyar ton karbon, sehingga menaikkan laju pertambahan CO2 dengan dua kali di angkasa bumi. Kebakaran hutan ini seakan tak terkendali lagi, dan berlaku setiap tahun hingga kini. Juga mencemaskan adalah penyedotan air tanah melebihi kemampuan alam untuk mengisinya kembali sehingga volume air dalam tanah kian berkurang.

Dalam keadaan seperti ini bisa dipahami bila lembaga swadaya masyarakat di lingkungan gelisah-resah, mengepalkan tinju dan berseru: “selamatkan lingkungan dulu, baru ekonomi!” [Profesor Emil Salim]

(sumber :Kompas, Selasa, 26 November 2002)

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Pendaftaran : Gratis
Fasilitas Peserta : Snack dan Sertifikat
Link pendaftaran : http://goo.gl/forms/oNKa8l8qqu

 

 

Comments

comments