Perubahan Sosial dalam Ranah Pendidikan di Thailand

 

Artikel Tematik Terpilih Bulan Juni 2016 dengan tema “Culture Shock: Sisi Lain Pendidikan di Thailand”

“Wow, cantik ya dia Cu!” ujar saya kepada teman saya. “Ya cantik, kamu aja kalah, Teh”, jawab teman saya. “Tuh cakep tapi cute lewat, kamu kalah juga Cu”, tambah saya. “Hahahahaha”, gelak tawa mewarnai hari kami setelah sehari kedatangan kami di Thailand. Sebetulnya untuk saya hal ini tidak sama sekali mengagetkan, karena mempelajari budaya sebelum datang ke sebuah negera itu memang sangat bermanfaat. Meskipun, saya akui tidak bisa membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa Thailand, tetapi sedikitnya saya bisa beradaptasi di sini. Bagi negara kita, fenomena “transgender” masih sangat tabu bahkan dianggap suatu tindakan kriminal. Hal ini pun bisa dikatakan suatu ketidaknormalan dan penyakit yang bisa menular, sehingga stigma-stigma ini menjadi bekal kami dalam menghadapinya. Orang-orang Thailand bisa dikategorikan sebagai masyarakat yang terbuka terhadap perubahan jaman. Mereka tidak memandang orang dari agama, warna kulit, dan orientasi seksual. Kenyataannya, mereka masih baik-baik saja dengan perempuan single, pasangan yang tidak menikah, open relationship, dan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender). Perlu diketahui ada dua negara ASEAN yang sangat terbuka dengan LBGT yaitu Thailand dan Filipina. Tingginya toleransi masyakarat Thailand membuat fenomena LGBT berkembang pesat. Thailand yang merupakan mayoritas beragama Buddha mengenal konsep pandaka dan Kathoey yang berarti skema konsep dari seksual orientasi dan identitas gender (UNDP, 2014:12). Tom berarti perempuan secara biologis yang mengakui identitas gendernya sebagai laki-laki dan Lady boy berarti laki-laki secara biologis yang mengakui identitas gendernya sebagai perempuan.

Fenomena ini bermula sejak mereka menginjak masa remaja. Berdasarkan data dari UNESCO, enam dari sepuluh remaja Thailand terdeteksi LGBT. Mereka sendiri mengakui bahwa LGBT bukan hanya orientasi seksual semata, tetapi pengakuan pada diri sendiri secara terbuka. Keterbukaan ini menjadi salah satu faktor yang mengantarkan masyarakat Thailand pada “The World’s Happiest Economies Based on Bloomberg News Version”. Pergerakan LGBT di Thailand sudah masuk ke ranah pendidikan. Meskipun, belum sepenuhnya dilegalkan di dalam kurikulum. Tahun 2013 Ramkhamhaeng University menjadi universitas pertama yang memperbolehkan seluruh mahasiswanya berpakaian sesuai gender yang mereka pilih selama mengikuti ujian di kampus (UNDP, 2014: 18). Masih dianggap belum memberikan advokasi sepenuhnya, Bangkok University mengeluarkan peraturan secara resmi dalam menentukan cara berpakaian sesuai pilihan identitas gendernya.

 ladyboytomboy

Sumber: Bangkok University

Pembaharuan juga terjadi di Thammasat University yang mempekerjakan seorang transgender untuk menjadi dosen. Nama beliau adalah Kath Khangpiboon. Beliau bekerja di Fakultas Administrasi Sosial pada program pra- dan pasca sarjana. Tidak hanya itu, beliau juga aktif menjadi tim advokasi organisasi Thai Transgender Alliance. LGBT di Thailand memang begitu nyata terasa, sehingga perlu mengetahui budaya yang ada dan karakter masyarakatnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat!

Salam dari Mahasarakham.  

foto

Sumber: BK The Insider’s Guide to Bangkok (http://bk.asia-city.com/city-living/news/transgender-lecturer-thammasat).

Tentang Penulis :

Nama : Reni Juwitasari
Master Degree Student in Educational Administration ASEAN Classroom Program, Faculty of Education, Mahasarakham University
Lahir di Bandung 12 Februari 1991

Comments

comments