Zakat for Community Empowerment

BANGKOK, Departement Sumber Daya Manusia Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha) mempersembahkan workshop dengan tema ZAKAT for COMMUNITY EMPOWERMENT, Sabtu (01/10). Acara terrsebut berhasil terlaksana atas dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Thailand (KBRI) dan Yayasan Dompet Dhuafa (DD).

Workshop ini diadakan mengingat peran zakat terhadap pentingnya pemberdayaan masyarakat yang belum disadari seutuhnya oleh mahasiswa. Selain itu, workshop ini dilhami dari kekhawatiran mengenai wajib tidaknya mengeluarkan zakat bagi mahasiswa yang sebagian besar adalah penerima beasiswa.

Workshop ZAKAT for COMMUNITY EMPOWERMENT diawali dengan pembukaan oleh panitia, sambutan Bapak Ahmad Rusdi selaku duta besar Indonesia di Thailand lalu di lanjutkan dengan materi workshop yang disampaikan langsung oleh General Manager Resources Mobilization Dompet Dhuafa, Bapak Urip Budiarto.

Materi yang dipaparkan di mulai dari definisi zakat. Zakat sendiri memiliki makna harta yang wajib dikeluarkan oleh pemilik harta jika sudah mencapai nisab (syarat harta wajib zakat) dan haul (lama kepemilikan penuh). Hal ini berdasarkan QS. At Taubah [9]: 103, “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka”. Zakat pun dibedakan menjadi 2 jenis yaitu (1) zakat nafs atau lebih dikenal dengan nama zakat fitrah (wajib dibayarkan setahun sekali menjelang idul fitri/ hari raya umat Islam dan (2) zakat harta (maal). Nah, untuk zakat harta ada aturan dan ketentuannya, yaitu sudah mencapai nisab dan haul (lama kepemilikan) tergantung jenis hartanya. Nisabnya bisa menggunakan 653 kg beras (653 kg x harga beras yang berlaku dibagi waktu terima harta dalam setahun) atau menggunakan standar emas, 85 gr emas (85 gr x harga emas yang berlaku dibagi waktu terima harta dalam setahun). Setelah mencapai nisab, jumlah zakat yang dikeluarkan adalah 2.5% dari harta yang diterima atau persentase lain untuk jenis harta sesuai ketentuannya sesuai yang disyariatkan.

Pemberdayaan masyarakat tidak akan pernah tercapai jika hanya mengandalkan sumberdana dari pemerintah karena tidak bisa dipungkiri bahwa dana yang dibutuhkan sangat banyak. Pengelolaan zakat yang pada prinsipnya adalah dana masyarakat akan menumbuhkan jiwa kemandirian yang lebih lestari. Kuncinya adalah kesadaran masing-masing individu.

Selama ini kita sering khawatir jikalau berzakat, akan membuat harta kita berkurang. Padahal hal yang terjadi adalah sebaliknya, rejeki menjadi bertambah karena sebenarnya rejeki manusia itu dititipkan pada kebahagian orang lain. Semoga workshop ini bisa memperbaiki pola pikir kita dan bisa membantu membangun generasi yang lebih peduli dan lebih baik.

Sudah mapan? Zakat kapan?

(Red:Ahsanatun SyahidawatiSekretaris Departemen SDM Permitha 2016-2017)

Comments

comments