Fasilitas Pendidikan di Thailand Tingkatkan Atmosfir Belajar

Fasilitas Pendidikan di Thailand Tingkatkan Atmosfir Belajar

Oleh: Ahmad Said , Mahasiswa S2 Kimia (Prince of Songkla University, Hat Yai, Thailand)

Pemenang Lomba Artikel Bulanan Permitha Bulan Mei 2017

Pendidikan adalah sebuah kebutuhan primer bagi setiap individu. Tujuan dari pendidikan itu sendiri yaitu sebagai usaha pembelajaran untuk menjadi manusia yang bertaraf lebih baik. Seseorang yang berpendidikan dapat terindikasi pada tingkat pengetahuan, keterampilan dan pemikirannya yang timbul dalam kebiasaannya sehari-hari (Ahmadi dan Uhbiyati, 2007), meskipun tingkat pendidikan seseorang tidak dapat menggeneralisasikan pernyataan bahwa seseorang yang telah menempuh pendidikan tinggi memiliki tingkat keterampilan lebih tinggi daripada yang hanya melewati pendidikan rendah. Hal ini juga berlaku untuk ihwal cara berpikir dan pola kemandirian seseorang terhadap permasalahan yang timbul di sekitarnya.
Bukan saja sebagai satu hal yang penting bagi individu, melainkan pendidikan juga berperan sebagai “pemancing” kemajuan pendidikan suatu bangsa bagi warganya. Oleh karena itu, kualitas pendidikan di suatu bangsa telah diatur dalam undang-undang negaranya masing-masing. Dalam realisasinya, peraturan perundang-undangan tentang pendidikan tersebut merancang program-program yang telah disusun oleh kementerian pendidikan untuk menghasilkan produk pendidikan yang tangguh dalam segala bidang (https://www.cermati.com/artikel/20-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia). Faktanya, masih banyak negara di dunia, baik di ASEAN maupun non-ASEAN, yang belum mencapai kualitas pendidikan yang memadai sebagaimana tujuan pendidikan yang mereka cita-citakan. Beberapa parameter seperti tingkat melek huruf, gairah mendaftar ke sekolah dasar dan menengah serta kesetaraan gender telah menjadi barometer kualitas pendidikan suatu negara sebagaimana sebuah lembaga survey The Social Progress Imperative dan UNESCO (The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) lakukan.
Mari kita tengok salah satu negara di ASEAN yang menempati posisi 89 di dunia beberapa tahun ini (UNESCO, 2015), yakni Thailand. Negeri jiran yang dikenal dengan negeri gajah putih berhasil mengumpulkan poin EDI (Education for All Development Index) 0,608 dari skor maksimum 1. Pencapaian tersebut adalah hasil upaya peningkatan anggaran pendidikan hingga 7,6% dari Produk Domestik Bruto, yang merupakan tingkat anggaran pendidikan tertinggi di ASEAN. Thailand telah mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan taraf hidup warganya.
PISA (Programme for International Student Assessment) mencatat Thailand sebagai negara terbaik ke-3 di ASEAN, setelah Singapura dan Malaysia, atau ke-55 sedunia untuk periode 2015. Perolehan angka tersebut ditinjau dari keterampilan dan kemampuan siswa yang berusia 15 tahun (Brozo et al., 2007). Peninjauan dilakukan secara berkala untuk melihat kemampuan siswa dalam subjek matematika, membaca, dan sains (Yusuf, 2007). Selain itu, PISA menguji para siswa dalam pemecahan masalah baik dalam bidang sejenis ataupun berbeda. Thailand berhasil melonjakkan atmosfir belajar para siswanya dari tahun 2012 yang hanya menempati posisi ke-59 sedunia. Ada beberapa faktor yang mendukung kemajuan pendidikan di Thailand yang sedang digalakan: (1) pembenahan pengajaran; (2) pembentukan karakter guru; (3) aplikasi teknologi sebagai media pengajaran; (4) pengembangan pendidikan vokasi; (5) peningkatan partisipasi pelayanan di universitas sebagaimana pengembangan pendidikan di bagian selatan Thailand.
Nampaknya perkembangan industri sepak bola dan ekonomi bisnis di Thailand beriringan dengan naiknya kualitas pendidikannya, sehingga tak ada salahnya bila Indonesia belajar sistem pendidikan dari Thailand. Kualitas pendidikan di Thailand terlihat pada gairah belajar para siswa dan gurunya. Di Thailand selatan – dimana penulis sedang menempuh studi – terlihat bahwa mahasiswa di sebuah universitas memiliki atmosfir belajar yang kuat. Sebagian besar mahasiswa belajar setiap hari tidak kurang dari 12 jam. Selain di kampus, mereka habiskan waktunya untuk mengerjakan tugas kuliah ataupun hanya membaca di perpustakaan atau study room yang ada di dormitory mulai dari pukul 7 pagi hingga larut malam pukul 3 pagi. Mereka berkumpul bersama dalam satu tempat untuk melakukan belajar bersama, saling mengajarkan dan mengingatkan.

suasana belajar

Gambar. Suasana belajar malam hari di asrama mahasiswa universitas yang ada di Thailand selatan


Bagi mahasiswa program magister dan doktoral, mereka memiliki tugas untuk penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan. Meskipun manajemen laboratorium dan pembimbingan mahasiswa dan penelitian tidak sebagus di Eropa dan Amerika, Thailand tergolong sebagai negara yang berkembang lebih baik di ASEAN setelah Singapuran dan Malaysia. Thailand memiliki fasilitas laboratorium cukup memadai. Sebagai contoh, Thailand memiliki alat karakterisasi di bidang sains lebih lengkap yang dimiliki oleh universitas bukan saja di bawah lembaga pemerintah khusus penelitian, seperti LIPI atau sejenisnya sebagaimana Indonesia miliki pada umumnya. Perihal ini bukan bertujuan untuk merendahkan kuliatas pendidikan di Indonesia, melainkan untuk saling membuka mata terhadap mutu pendidikan di negara tetangga. Di universitas, mahasiswa S1, S2 atau S3 lebih diperkenankan memakai alat uji sendiri secara mandiri, baik dalam praktikum laboratorium ataupun proyek penelitian, sehingga mereka lebih terbiasa memakai alat tersebut dan membuatnya semakin gemar untuk mempelajarinya. Atmosfir riset para dosen di Thailand cukup tinggi dan merambah naik yang terindikasi dari kuantitas jurnal sebanyak 13.000 terpublikasi internasional pada tahun 2016, yang tahun sebelumnya hanya 11.000.

(https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170313/281724089354479).

Jurnal tersebut merupakan hasil penelitian bukan saja dari para dosen, namun melibatkan mahasiswa Sarjana.
Menurut opini penulis, fasilitas pendidikan yang mendukung itulah yang telah membangun atmosfir semangat belajar para siswa yang ada di Thailand. Selain daripada sarana pendukung di kampus, fasilitas pendidikan dapat berupa pengajar yang professional. Anies Baswedan mengatakan, “Kurikulum berubah, tidak otomatis tingkat pendidikan meningkat. Namun, jika kualitas guru meningkat, kualitas pendidikan pasti meningkat. Itu kuncinya” (http://www.hipwee.com/motivasi/10-pesan-inspiratif-anies-baswedan-jadi-tambah-yakin-kita-semua-harus-berjuang-untuk-pendidikan). Kalimat tersebut telah membuktikan bahwa kualitas dan mentalitas seorang guru mempengaruhi masa depan pendidikan suatu bangsa, seperti di Thailand. Para dosen di Thailand gemar membaca dan meluangkan diri untuk riset, yang akhirnya membuat kebiasaan tersebut menjangkit mahasiswanya. Dengan demikian, negara-negara ASEAN lain, selain Singapura dan Malaysia, yang berkenan memiliki kualitas pendidikan lebih baik dapat berkaca pada Thailand dengan melakukan pembenahan pada fasilitas pendidikannya hingga mampu menciptakan atmosfir belajar yang penuh semangat.


References.
Ahmadi dan Uhbiyati, 2007. Ilmu Pendidikan. Rineka Cipta, Jakarta.
Anonim, 2016. 20 Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. https://www.cermati.com/artikel/20-negara-dengan-sistem-pendidikan-terbaik-di-dunia – diakses pada 10 Mei 2017.
RWN, 2017. Publikasi di Bawah Malaysia: Insentif Rp 25 Juta bagi Artikel yang Terbit di Jurnal Terindeks Scopus. https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170313/281724089354479 – diakses pada 11 Mei 2017.
Brozo, W.G., Shiel, G., dan Topping, K., 2007. Engagement in Reading: Lessons Learned From Three PISA Countries. Journal of Adolescent and Adult Literacy. 51 (2007) 304-315.
Thiar, G.M., 2016. 10 Pesan Inspiratif Anies Baswedan. Jadi Tambah Yakin, Kita Semua Harus Berjuang untuk Pendidikan. http://www.hipwee.com/motivasi/10-pesan-inspiratif-anies-baswedan-jadi-tambah-yakin-kita-semua-harus-berjuang-untuk-pendidikan – diakses pada 10 Mei 2017.
Yusuf, S. 2007. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Remaja Rosdakarya, Bandung.


said psu

Nama Penulis : Ahmad Said (Sa'id El-kindy)
Status : Mahasiswa S2 Kimia
Fakultas : Science
 Nama Universitas : Prince of Songkla University (PSU) , Hat Yai, Thailand

Comments

comments