Inspirasi dari Thailand: RUANG KULIAH

Inspirasi dari Thailand: RUANG KULIAH
Oleh : Reni Juwitasari
(Pengajar di Faculty of Education, Mahasarakham University, Thailand)

“Mahasiswa di Thailand ini betah sekali duduk dua jam untuk mendengarkan gurunya di kelas. Bahkan jika rakyatnya mendemo selama berhari-hari pun tidak mempengaruhi aktivitas ekonomi”, ujar Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Muhammad Jusuf Kalla saat memberikan sambutan di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Bangkok Thailand, pada tanggal 22 Maret 2017.
Kesempatan bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia ini sangat memberikan inspirasi, motivasi dan semangat bagi saya. Sebagai orang Indonesia yang sudah hampir 3 tahun tinggal di Thailand, tentunya merasakan perbedaan kultur, bahasa dan lingkungan sekitar. Yang kemudian, saya mengamini pernyataan dari Bapak Jusuf Kalla.
Pendidikan Thailand saat ini sedang menjadi primadona dunia bersamaan dengan Argentina, Chili, Turki, Iran, Kolombia dan Serbia. Negara-negara yang disingkat TACTICS ini adalah tempat terbaik sistem pendidikan tinggi yang dikolaborasikan dengan pertumbuhan ekonomi (dilansir dari World Economic Forum online, 2016). Bagi saya hal ini tidak mengherankan mengingat filosofi pendidikan Thailand adalah ekonomi yang berkecukupan. Filosofi ini dicetus oleh Raja Thailand Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej yang menggambarkan “Masyarakatnya yang hijau dan bahagia” (UNESCO, 2007:1). Ini berarti pendidikan di Thailand dirancang untuk menyiapkan generasi mudanya mampu berkompetisi baik di level regional maupun global. Hal ini dibuktikan dengan angka pengangguran di Thailand hanya 0.84% di tahun 2016 (www.tradingeconomics.com/ Bank of Thailand).


Pendidikan “Berhati Nurani” untuk Pemimpin Masa Depan

Thailand memukau saya dengan sistem pendidikannya yang ada. Pada suatu hari, saya masuk ke kelas mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Mahasarakham University, Thailand. Mereka mengenakan seragam yang berwarna putih dan hitam disertai pin logo masing-masing universitas dan memakai sepatu pentopel hitam. Indah dipandang, memang. Mereka masuk ke kelas dan mengucapkan salam “Sawadhee” kepada gurunya. Di Thailand guru adalah kepanjangan tangan dari Budha. Guru dihormati bahkan dirayakan keberadaannya di setiap hari guru tanggal 16 Januari dengan sebuah upacara perayaan. Perayaannya disebut dengan Wai Kru. Siswa dan mahasiswa wajib membuat karangan untuk diberikan pada guru. Tujuannya adalah untuk mendapatkan restu serta memperkuat hubungan baik antara guru dan siswanya.
Mahasiswa duduk dengan tenang dan siap untuk menerima materi yang akan disampaikan oleh dosennya. Kegiatan belajar dan mengajar pun dimulai. Ternyata, penerapan teknik pengajaran di kelas sama saja dengan yang diberlakukan di Indonesia. Lima belas menit kemudian, mereka masih duduk “anteng”. Sejam kemudian mereka masih duduk anteng pula. Kemudian, dosennya bertanya, “ada yang mau ditanyakan?”, kebanyakan dari mereka tidak bertanya, meskipun ada beberapa yang bertanya. Pelajaran berlanjut, mahasiswa masih saja duduk anteng memperhatikan dosennya berbicara di depan kelas. Kemudian, dosennya memberikan mahasiswanya tugas dalam kelompok kecil. Hasil dari diskusinya harus dipresentasikan. Dosennya pun memberikan studi kasus untuk memecahkan beberapa masalah serta pertanyaan analisis. Mahasiswa pun mulai berdiskusi.
Diskusipun berjalan. Saya membuat catatan bahwa selama diskusi mahasiswa itu tidak gaduh. Mereka fokus pada pencarian jawaban. Waktu 30 menit berlalu tetapi mereka masih belum bisa menyelesaikan tugas yang diberikan dosen. Dosen pun langsung menghampiri mereka satu per satu dan mengeluhkan pertanyaan analisis itu terbilang susah. Meskipun sebenarnya mereka sudah menjawab pertanyaan tersebut.
“Bagaimana dengan pemecahan masalah?”,tanya dosennya. “Ya, saya sudah selesai”, jawab mahasiswa. “Baiklah, waktu sudah habis. Silakan dipresentasikan”, ucap dosennya. Mereka dengan rapi membawa catatan dan seluruh anggota kelompok maju untuk bersama-sama presentasi. Mereka mulai membaca hasil diskusinya. Tulisan yang mereka buat sangat sistematis dan ada kesinambungan antar paragrap. Namun, pada pertanyaan analisis mereka hanya mengutarakan sedikit pendapat mereka. Akan tetapi kebalikannya, mereka mampu menjawab pertanyaan studi kasus dengan membuat program, aktivitas bahkan kegiatan dengan skala ASEAN. Konten kegiatan yang mereka gambarkan menitik beratkan pada rasa bahagia. “Program saya adalah Fun Reading. Fun Reading ini diharapkan bisa meningkatkan minat baca siswa dengan cara menyimpan hadiah di halaman tertentu pada sebuah buku. Jika siswa bisa membaca sampai halaman tersebut maka dia akan dapat hadiah tersebut”, ucap salah satu anggota kelompok. Ada juga yang membuat program Pekan ASEAN yang menekankan pada pembelajaran budaya di ASEAN melalui kuis dan permainan anak-anak, ada pula program Trip Entrepreneurship Development yang mengkolaborasikan sebuah camping selama 3 hari dan kunjungan ke industri dan masih banyak lagi.
Ternyata mereka mampu menjawab masalah studi kasus. Meskipun satu sisi mereka masih perlu mengasah pemikiran analisisnya, karena selama presentasi bisa dikatakan tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
Ketika mereka presentasi di depan kelas, terlihat memang mereka membaca tulisan yang dikonsepnya. Saya bertanya ke beberapa mahasiswa mengenai alasan mengkonsep kata-kata sebelum presentasi, “Saya harus menulisnya dengan teliti dan sistematis, karena apa yang akan saya bacakan adalah ilmu, saya takut melakukan kesalahan”, jawab salah satu mahasiswa yang bernama Gam Pakjeera. Saya benar-benar merasa kagum dengan mereka, ternyata mengkonsep tulisan sebelum presentasi itu penting agar tidak melakukan kesalahan. Dua jam lamanya mereka menghabiskan waktu belajar di kelas per satu mata kuliah dan waktu pembelajaran berakhir.
Pendidikan Thailand rupanya memang merancang generasi mudanya untuk tak bersikap arogan dengan menekankan Creative Thinking, bukan hanya critical thinking; mencoba membuat sesuatu yang baru, bukan hanya pada proses menilai validitas sesuatu yang ada. Sikap mahasiswa di Thailand terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, apalagi politik, tidak mereka anggap urgent, karena peran pendidikan diarahkan pada upaya memberikan solusi bukan kritik tanpa solusi. Bahkan kehati-hatian pemikiran dan bertutur kata di dalam kelas adalah suatu cerminan generasi muda Thailand mejalankan hidupnya dengan sistematis. Bagi mereka belajar untuk mendapatkan IPK yang tinggi adalah modal untuk bekerja dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Bagi negara Indonesia, pendidikan adalah peranan penting untuk menciptakan kehidupan berbangsa. Pendidikan dapat mengatur arah kehidupan anak-anak bangsa. Pendidikan pun dapat menjadi strategi membangun pertumbuhan ekonomi. Sudah saatnya arah pendidikan kita ditekankan pada kreativitas yang bertanggung jawab, agar pemikiran kritik generasi muda Indonesia yang telah dibangun bisa menghasilkan solusi bagi permasalahan bangsa. Karena ada pepatah bilang orang pintar akan kalah saing dengan orang kreatif.


Sumber:
 Baker, M. (2001). Relationship between Critical and Creative Thinking. Journal of Southern Agricultural Education Research, 51:1.
 http://www.tradingeconomics.com/thailand/unemployment-rate
 http://www.unescobkk.org/fileadmin/user_upload/shs/Philosophy/Country_summary_updated_Aug2010/Summary_of_the_Teaching_of_Philosophy_in_Thailand.pdf
 https://www.weforum.org/agenda/2016/12/countries-global-higher-education-superstars-tactics-?utm_content=buffera7438&utm_medium=social&utm_source=facebook.com&utm_campaign=buffer

Nama     : Reni Juwitasarireni2
Status   : Pengajar di Faculty of Education, Mahasarakham University, Thailand.
Fakultas : Educational Administration/Faculty of Education
Nama Universitas : Mahasarakham University Thailand

Comments

comments