Magnet Perpustakaan Bagi Mahasiswa di Thailand

Magnet Perpustakaan Bagi Mahasiswa di Thailand

Oleh : Handayani Boa
Mahasiswa King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Bangkok-Thailand

Pembangunan kualitas sumberdaya manusia dan keberhasilan pendidikan formal adalah tidak cukup hanya pada kualitas dan kuantitas saat proses belajar mengajar dan interaktif antara guru dan siswa atau dosen dan mahasiswa, kurikulum yang tepat, dukungan program-program pendidikan/pelatihan dan beasiswa dari pemerintah/swasta atau lainnya terkait, tetapi tersedianya sejumlah fasilitas penting wajib ditunjang dalam proses transfer ilmu tersebut. Di antaranya memiliki perpustakaan sebagai “jendala pengetahuan” bagi siswa maupun mahasiswa.
Gedung perpustakaan merupakan tempat representatif dan tepat untuk menunjang transfer ilmu pengetahuan tersebut karena di dalam perpustakaan siswa/mahasiswa difasilitasi ruang membaca, menulis, menonton dan berdiskusi berbagai ilmu selain dapat dilakukan di ruang kelas. Menurut Wikipedia, (https://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan), perpustakaan merupakan tempat belajar dan mengakses informasi ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi dan ibadah dalam bentuk koleksi buku, artikel, jurnal, majalah, koran ataupun dalam bentuk digital. Akses informasi tersebut dapat pula dicari melalui internet secara online, yang mana seluruh internet di Thailand sangatlah cepat loadingnya. Adapun kepemilikan perpustakaan dapat berasal dari milik pribadi, institusi pemerintah, sekolah/perguruan tinggi dan masyarakat umum. Sedangkan ukuran bangunan dan ruangannya terdapat ada yang kecil, sedang, besar dan luas.
Pada umumnya perguruan tinggi-perguruan tinggi di Thailand telah difasilitasi perpustakaan seperti halnya universitas atau institut yang ada di Negara-Negara lain. Berdasarkan hasil survey dan pengamatan ke perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi besar, terkenal dan ternama di Thailand seperti Universitas Mahidol, Rajamanggala, Burapha, King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), Chulalongkorn, Kasetsart, AIT, Songkla, dan Thammasat menunjukkan bahwa area favorit dan ditemukan konsentrasi jumlah mahasiswa adalah perpustakaan. Bahkan, frekuensi kunjungan dan jumlah mahasiswa meningkat ketika periode menjelang ujian semester dan tengah semester. Ini dapat dibuktikan dengan membandingkan jumlah mahasiswa di dalam perpustakaan ketika masa puncak tersebut dengan periode masa belajar di kelas. Hal ini mendorong penulis ingin mengatahui apakah yang menjadi keasadaran para mahasiswa tersebut untuk tertarik datang dan berlama-lama di tempat tersebut, yang mana pada sebagian siswa ataupun mahasiswa menganggap belajar adalah sesuatu yang membosankan (dari anggapan pendapat dan pengalaman pribadi dan beberapa teman).
Potret Sarana dan Fasilitas Belajar Perpustakaan
Sejuk, bersih dan nyaman. Itulah kata yang dapat digambarkan dari perpustakaan-perpustakaan yang ada di perguruan tinggi di Thailand yang telah dikunjungi. Fasilitas Air Conditioner (AC) yang dipasang di dalam ruangan telah membuat badan tidak gerah dan merasa sejuk ketika pertama kali masuk. Lantai, dinding, meja, kursi, lemari, rak buku, lukisan dan lainnya bersih tidak berdebu termasuk penerangan/pencahayaan dalam ruangan, pemilihan warna, corak dan rancang arsitekturnya. Poster yang menarik dan khas pada bagian resepsionis perpustakaan di Perguruan Tinggi di Thailand adalah dipajangnya photo raja dalam ukuran tinggi 50 sampai 150 cm dan lebar kurang lebih 50 cm, bahkan ada pula hingga ukuran lebih besar. Suasana di dalam ruangan dapat digambarkan tenang apalagi untuk ruangan baca dan “thinking zone” kecuali di lantai dasar umumnya dipergunakan sebagai tempat diskusi, alat musik untuk hiburan (piano contohnya di KMUTT), istirahat dan café atau bar yang menjual snack, minuman dingin dan panas, serta minuman jus buah. Kursi dan meja yang tersedia pun ada yang terbuat dari bahan busa, plastik, logam, besi, kawat dan kayu yang di design sesuai kebutuhan dan kenyamanan mahasiswa. Mahasiswa pun diperbolehkan berbaring di kursi-kursi sofa panjang jika lelah dan merasa kantuk untuk beristirahat sejenak.

boa1Referensi literatur yang tersedia relatif lengkap, kekinian dan update. Mereka melengkapi pula sumber jurnal-jurnal internasional online untuk sitasi yang dapat diakses secara free oleh anggotanya melalui komputer pribadi ataupun komputer yang telah tersedia. Keanggotaaan ini akan berakhir apabila mahasiswa tersebut lulus dari studinya. Selain literatur dalam bentuk hard (buku, artikel, jurnal, majalah, surat kabar dan lain-lain) terdapat pula dalam bentuk soft film yang di kemas ke dalam CD (Compact Disk). Sehingga, komputer yang tersedia dilengkapi loudspeaker seperti headphone untuk menunjang nonton film tersebut. Selanjutnya, ruang diskusi untuk kelompok difasilitasi proyektor LCD, spidol tulis, dan glass board atau white board. Pada bagian ruangan lain, terdapat pula museum mini perpustakaan yang dapat dikunjungi semua orang setelah membuat permohonan secara resmi.
Fasilitas fisik penting tersedia di perpustakaan di Thailand yang jarang ditemukan di perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia (contohnya propinsi Kaltim) berdasarkan survei adalah televisi khusus mahasiswa, persediaan air mineral siap di minum, dan toilet yang bersih. Televisi tersebut dimanfaatkan untuk memantau berita-berita lokal, nasional dan internasional terkini. Air bersih siap minum secara cuma-cuma pun tersedia pada setiap lantai/tingkat termasuk gelas bersih atau paper cup. Air yang tersedia ada yang dingin dan panas. Sebenarnya, air minum bersih yang tersedia di dalam water tank oxone atau dispenser tersebut tidak hanya terdapat di perpustakaan tetapi tersedia pula di setiap fakultas dan kantin di dalam kampus sebagai standar fasilitas mereka. Selanjutnya, toilet yang tersedia adalah toilet kering dan sangat dijaga kebersihannya, dilengkapi westafel, sabun untuk mencuci tangan, tissue dan pengering tangan otomatis (Hand Dryer).

boa2

Selain fasilitas fisik penting di atas, jadwal kunjungan adalah ada tiga pengelompokan range waktu, dan ini karena disesuaikan kebutuhan mahasiswa. Waktu kunjungan normalnya ada dua yaitu pukul 9 pagi sampai 9 malam, dan 9 pagi sampai 5 sore setiap hari kerja, tetapi pada periode ujian semester atau tengah semester akan lebih lama yakni akan diperpanjang hingga sampai pukul 12 malam. Bahkan seperti ruang serbaguna (lantai 1) perpustakaan di Universitas Burapha dibuka 24 jam setiap hari. Adapun pengembalian buku tidak terbatas pada hari aktif belajar saja, tetapi dapat dilakukan setiap hari dan waktu karena mereka menyediakan kotak pengembalian buku yang dapat diakses dari luar gedung perpustakaan.
Fasilitas yang memadai tersebut menurut Sedarmayanti, (2000) ada 10 dimensi terpenuhi yaitu tangibles, reliability, responsiveness, competence, access, courtesy, communication, credibility, security and understanding the costumer.
1. Tangibles (berwujud), ruangan dan peralatan harus nyaman dan tertata dengan baik serta petugas pelayanan senanti asa berpakaian rapi.
2. Reliability (kehandalan), kinerja pustakawan harus dapat diandalkan dan akurat sehingga mampu menekan sekecil mungkin tingkat kesalahan yang terjadi.
3. Responsiveness (daya tanggap atau keresponsifan), setiap pustakawan harus mampu memberi jawaban kepada setiap permintaan pengguna dalam waktu yang relatif singkat. Apabila jawabannya tidak ditemukan, pustakawan harus mampu mengacu pertanyaan ke sumber informasi yang tepat. Dalam hal ini, bahan rujukan menjadi sangat penting.
4. Competence (pengetahuan dan keterampilan), pustakawan yang bertugas melayani masyarakat harus terlatih dengan memadai sehingga dari segi teknis maupun etika berkomunikasi sangat menguasai dan mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.
5. Acces (kemudahan hubungan), setiap pengguna perpustakaan harus memiliki akses yang mudah terhadap jasa perpustakaan. Suasana perpustakaan harus menyenangkan dan dilengkapi sarana komunikasi dan kalau memungkinkan juga fasilitas akses secara elektronis sehingga pelacakan informasi dapat dilaksanakan dengan cepat dan akurat.
6. Courtesy (perilaku), setiap pustakawan harus bersikap sopan, bersahabat, tanggap terhadap kebutuhan pengguna, hormat dan ramah kepada setiap pengguna.
7. Communication (komunikasi), setiap pustakawan harus mampu memberi layanan untuk mendengarkan suara, keinginan atau aspirasi pengguna sekaligus kesediaan untuk selalu menyampaikan informasi baru kepada masyarakat pengguna.
8. Credibility (kredibilitas atau kejujuran), setiap pustakawan harus mampu memiliki kredibilitas yang tinggi dan yang paling cocok dengan kebutuhan pengguna.
9. Security (keamanan), pelayanan perpustakaan harus dapat menjamin keselamatan fisik, keuangan, serta bahan-bahan yang dianggap rahasia.
10. Understanding the Customer (memahami atau mengerti kebutuhan masyarakat pengguna), setiap pustakawan harus mampu menggali, mengidentifikasi, dan memahami kebutuhan pengguna.
Selanjutnya, peraturan umum bagi pengunjung perpustakaan di Thailand adalah tidak boleh mengenakan baju tanpa lengan “you can see”, celana pendek atau rok pendek di atas lutut, larangan membawa makanan dan minuman dari luar, larangan makan dan minum pada zona yang dilarang, larangan membawa senjata tajam, minuman keras dan zat kimia berbahaya lainnya. Untuk menfasilitasi larangan tersebut, telah disediakan loker penitipan barang, makanan dan minuman untuk disimpan sementara.

Penutup
Atas dasar fasilitas dan pelayanan sesuai standar kebutuhan tersebut, maka mahasiswa Perguruan Tinggi di Thailand telah terdorong datang ke perpustakaan untuk belajar ilmu pengetahuan. Semakin tinggi animo dan kesadaran mahasiswa ingin mengetahui pengetahuan, membaca dan belajar maka kualitas sumberdaya manusia semakin bermutu. Karena perpustakaan adalah gudang ilmu bagi siapa saja yang ingin datang dan memanfaatkannya.


Referensi
Sedarmayanti, 2000. Restrukturisasi dan Pemberdayaan Organisasi untuk Menghadapi Dinamika Perubahan Lingkungan. Bandung : Masdar Maju.

Wikipedia, 2017. Perpustakaan. https://id.wikipedia.org/wiki/Perpustakaan [disitasi, 9 Mei 2017].


boa3Handayani Boa. berdomisili di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Saat ini sedang menempuh studi di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), di Bangkok-Thailand, tepatnya di School of Bioresources and Technology (SBT). Hobby adalah travelling, membaca, menulis dan berkesenian.

Comments

comments