Menjadi Mahasiswa Peneliti di Negeri Gajah Putih

Menjadi Mahasiswa Peneliti di Negeri Gajah Putih
Oleh: Septika Prismasari
(Mahasiswa Prince of Songkla University, jurusan Applied Oral Health Science, Faculty of Dentistry)

“Kenapa singa disebut sebagai raja hutan? Karena dia memilih jalan yang belum pernah dilewati oleh binatang lain, meskipun jalan tersebut sunyi dan penuh tantangan”
(Disadur dari Ika Dewi Ana, dengan perubahan)1


Melanjutkan pendidikan tinggi di negara selain Indonesia telah menjadi candu dan masuk dalam daftar mimpi yang ingin diraih oleh sebagian orang. Berbagai kemudahan dan fasilitas terbaik yang ditawarkan oleh masing-masing universitas dan negara telah menjadi daya tarik tersendiri. Keberagaman dan keleluasaan untuk memilih program studi dan dosen pembimbing (supervisor) juga menjadi salah satu pertimbangan. Dengan berbagai variasi tawaran beasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri, hal tersebut tidak lagi menjadi sesuatu yang mustahil untuk diraih para pemburu beasiswa.
Bagi sebagian kalangan, Thailand belum begitu menarik untuk dijadikan sebagai negara tujuan belajar dibandingkan negara-empat-musim. Popularitasnya masih berada di bawah negara-negara di benua biru, negeri paman Sam, ataupun negeri matahari terbit. Tetapi, dalam dekade terakhir, Thailand mulai masuk dalam negara yang patut dipertimbangkan dengan beberapa alasan umum yang masuk akal.2,3 Ditambah dengan semakin banyaknya kerjasama bilateral antara Indonesia dan Thailand, baik di tingkat universitas maupun fakultas. Dari segi kualitas pendidikan, beberapa perguruan tinggi Thailand memiliki peringkat lebih tinggi dibandingkan perguruan tinggi terkenal di Indonesia.4 Lebih lagi, jumlah publikasi terindeks Scopus yang dihasilkan oleh Thailand terhitung lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, setelah Singapura dan Malaysia.5
Ada suatu persetujuan umum tidak tertulis di kalangan mahasiswa Indonesia, yang menyatakan bahwa untuk bisa kuliah di Thailand itu cukup mudah. Syarat-syarat yang diajukan tidak terlalu sulit, skor bahasa Inggris yang disyaratkan (TOEFL®, IELTS®) tidak terlalu tinggi untuk bisa diraih. Akan tetapi, untuk bisa lulus dari universitas di negara ini dan menyandang gelar akademik adalah suatu cerita yang lain. Standar yang diterapkan cukup tinggi dan ketat, baik untuk mahasiswa lokal maupun internasional. Salah satu hal menarik untuk diamati adalah pendidikan tingkat S2 dan S3 sebagai mahasiswa peneliti yang cukup banyak dijalani oleh mahasiswa Indonesia.
Mahasiswa peneliti atau research student adalah mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan melakukan penelitian sebagai syarat utama mendapatkan gelar akademik. 6 Program ini biasanya diperuntukkan bagi mereka yang berkeinginan atau sudah bekerja sebagai pengajar atau peneliti di suatu institusi. Program ini menuntut kemampuan analisis dan menulis yang bagus, yang bertujuan untuk mampu melakukan penelitian yang baik, aplikatif, dan solutif, serta bisa menghasilkan hasil akhir (teori, gagasan, produk, prototype) yang baik dan layak untuk dipublikasikan. Berbeda dengan program coursework , mahasiswa diwajibkan mengikuti kuliah wajib yang dikombinasikan dengan penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan.6 Program coursework ditujukan bagi mereka yang berkeinginan atau sudah bekerja secara profesional dan memerlukan skill atau kemampuan yang lebih mendalam. Sebagai contoh, seorang dokter gigi yang mengambil pendidikan spesialis atau setara dengan S3. Sebagai syarat lulus dan mendapatkan gelar spesialis, dia diwajibkan untuk mengambil kelas dan mengasah kemampuan analisis dengan menangani pasien dengan berbagai kasus di klinik. Di samping itu, dia juga diwajibkan untuk melakukan dan menulis penelitian berdasarkan temuan di klinik atau eksperimen.
Menjalani hidup sebagai mahasiswa peneliti, terutama di Thailand, memiliki beberapa keuntungan dan tantangan tersendiri. Secara umum, hal tersebut tidak jauh berbeda dengan negara lain.7 Tidak ada keharusan untuk mengikuti kuliah wajib di dalam kelas, sehingga memberikan kesempatan lebih luas untuk mengeksplorasi dan mendalami bidang keilmuan yang diminati. Pembelajaran lebih banyak dilakukan secara independent oleh mahasiswa sendiri dan diskusi mandiri dengan dosen pembimbing dan para ahli bisa dilakukan secara lebih mendalam. Waktu untuk belajar dan bersantai pun bisa diatur dengan leluasa sesuai dengan kemampuan dan keperluan. Ditambah lagi, jumlah hari libur nasional di Thailand lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia. Keinginan untuk mengeksplorasi daerah-daerah di Thailand, mulai dari yang paling terkenal hingga yang tersembunyi.
Akan tetapi selayaknya dua sisi mata uang, sebagai mahasiswa peneliti di negara asing, ada tantangan yang harus siap untuk dihadapi selama masa studi. Mahasiswa peneliti lebih ditekankan untuk menemukan ide unik dan melakukan penelitian, yang kemungkinan besar berbeda di tiap mahasiswa. Masa studi dan waktu kelulusan pun menjadi sangat bervariasi. Kondisi ini tersebut membuat interaksi dengan mahasiswa lain menjadi terbatas. Ditambah dengan tekanan, tuntutan akademik, dan ekspektasi yang tinggi dari dosen pembimbing dan berbagai belah pihak, apalagi jika menyandang beasiswa tertentu. Hal tersebut tidak jarang memunculkan rasa kesepian bahkan terkadang memicu depresi.
Berbeda dengan mahasiswa coursework yang menjalani ujian dan mendapatkan nilai tertentu yang dikonversikan ke Grade Point Average (GPA), mahasiswa peneliti tidak memiliki standar evaluasi yang cukup jelas. Program master atau doctoral by research di salah satu universitas negeri di Songkhla, Thailand Selatan, misalnya. Nilai yang dicantumkan pada transcript academic hanya berupa dua kriteria; pass atau unpass, satisfied atau unsatisfied. Pembelajaran lebih mengarah kepada kemampuan analisis dan sistematika berpikir serta langsung dipraktikkan dalam penelitian di bawah bimbingan dan pengawasan para ahli, sehingga mahasiswa kesulitan untuk menilai hasil pekerjaan sendiri. Selain itu, mahasiswa akan dituntut untuk memiliki manajemen diri dan waktu yang baik untuk bisa memenuhi target dan persyaratan yang ditentukan. Pseudo-holidays atau hari libur semu adalah hal umum yang dijalani oleh mahasiswa peneliti di negara manapun.
Bagi yang tertarik melakukan penelitian di komunitas atau masyarakat Thailand pun memiliki tantangan tersendiri. Di antara negara-negara di Asia Tenggara, Thailand memiliki program-program promosi kesehatan masyarakat yang menarik untuk dipelajari dan paling memungkinkan untuk diadopsi di Indonesia. Misalnya program-program di sekolah, daily care, community health care center, atau rumah sakit. Namun, kendala bahasa menjadi suatu tantangan yang sangat nyata, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga tidak jarang sebagian besar mahasiswa yang memiliki minat di bidang ini lebih disarankan untuk melakukan penelitian dan pengambilan data di Indonesia dibandingkan di Thailand untuk menghindari terjadinya bias pada penelitian akibat keterbatasan komunikasi.
Beberapa hal yang disampaikan pada tulisan ini tentunya tidak dapat disama-ratakan pada semua orang. Setiap orang memiliki jenis tantangan yang berbeda-beda dan bagaimana cara penyelesaiannya tergantung pada masing-masing individu. Beruntunglah bagi mahasiswa yang mendapatkan kelancaran pada studinya dan bersemangatlah bagi mahasiswa yang sedang mendapatkan tantangan. Apapun itu, mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi bahkan hingga ke luar negeri adalah hal yang wajib disyukuri. Tantangan dan kesulitan yang didapatkan tidak lain adalah cara untuk menempa kualitas diri menjadi lebih baik. Batu intan dan berlian menjadi begitu berharga karena sukses bertahan dari tempaan tekanan kuat dan suhu tinggi, bukan? Terakhir, hasil yang diraih di akhir dan selama masa pendidikan semoga dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi masyarakat, bangsa, negara, dan bahkan dunia.
“Mimpi boleh menjulang tinggi, tetapi hati harus selalu membumi. Cita-cita boleh besar melayang , namun tujukan untuk kepentingan banyak orang.”


Referensi:
1. Ika Dewi Ana. 2015. Catatan Tulang Ilmuwan: 4. Diakses tanggal 7 Mei 2017 https://ikadewimusashi.wordpress.com/2017/05/03/catatan-tulang-ilmuwan-4/
2. Heri Akhmadi. 2016. 5 Alasan Kuliah di Thailand. Diakses tanggal 29 April 2017 https://heriakhmadi.wordpress.com/2016/02/11/5-alasan-studi-lanjut-di-thailand/
3. Anonim. 2013. 10 Negara Tujuan Kuliah di Lunar Negeri. http://www.top10indo.com/2013/04/10-negara-tujuan-kuliah-di-luar-negeri.html
4. Webometrics. Ranking Web of Universities. Thailand. Diakses tanggal 29 April 2017 http://www.webometrics.info/en/Asia/Thailand
5. Scopus. Scimago Journal and Country Rank. Diakses tanggal 29 April 2017 http://www.scimagojr.com/countryrank.php
6. Prince of Songkla University. PSU Graduate Study: Study Guideline. Diakses tanggal 29 April 2017 http://www.grad.psu.ac.th/GraduateStudyGuide.php#2
7. Ahmad Ataka Awwalur Rizqi. 2015. The Good and Bad of Being a research student: Refleksi Sembilan Bulan Studi Doktoral. Diakses tanggal 29 April 2017 https://ahmadataka.wordpress.com/2015/10/11/the-good-and-bad-of-being-a-research-student-refleksi-sembilan-bulan-studi-doktoral/


septika

Septika Prismasari (25 tahun) adalah mahasiswi asal Daerah Istimewa Yogyakarta yang sedang menempuh pendidikan tinggi tingkat Master di Thailand, tepatnya di Prince of Songkla University, Hat Yai Campus, jurusan Applied Oral Health Science, Faculty of Dentistry.

Comments

comments