Potret yang Bernama Budaya

POTRET YANG BERNAMA BUDAYA

Oleh : Ekha Rifki Fauzi
Mahasiswa Chulalongkorn University, Thailand

Potret sering kali dikaitkan dengan kamera yang setiap take picture-nya menghasilkan foto yang indah dan memiliki nilai seni tinggi. Tidak sedikit hasil potret mendapatkan penghargaan diajang pameran seni dan dilelang menghasilkan pendapatan yang tinggi. Potret juga identik dengan istilah angle, lensa, atau keahlian fotografi.
Apa jadinya kalau potret itu bermetamorfosis menjadi sebuah penampakan budaya. Metamorfosis budaya akan menunjukkan, betapa menakjubkannya sebuah fenomena sosial masyarakat. Potret yang bernama budaya dapat menggunakan lensa alami yang ada pada organ mata kita sendiri. Hanya dengan mengamati fenomena-fenomena yang ada disekitar, kita dapat merekam dan memotret untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang potret sebuah budaya.
Fenomen-fenomena budaya, tentunya sedap untuk disimak dan perhatikan. Begitu banyaknya fenomena yang dapat menjadi budaya pada masyarakat. Tapi perlu digaris bawahi bahwa potret budaya disini hanya mengambil sampel fenomena budaya pemuda Thailand.
Budaya pemuda di Thailand sungguhlah maju dan modern, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Tengok saja budaya sopan santun terhadap guru mereka yang sungguh menggambarkan budaya ketimuran.
Ada sebuah budaya yang menurut penulis masuk kategori memiriskan hati, yaitu budaya pendidikan Thailand, terutama atmosfer belajar para mahasiswanya. Atmosfer pendidikan terlihat dari perilaku-perilaku kebiasaan yang ditunjukkan para mahasiswa dalam kesehariannya dalam berkampus dan bersosialisasi.


Kenapa tergolong memiriskan hati?
Pertanyaan yang perlu diungkap, dari sisi memiriskan ini, untuk tujuan pembelajaran kita semua, baik kita sebagai mahasiswa asing atau sebagai allien di Thailand. Budaya memiriskan ini, berdasarkan dari cara pandang “budaya”, menurut Koentjaraningrat (200:180) menyebutkan bahwasanya keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka berkehidupan masyarakat yang telah dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Pengertian istilah “budaya dan kebudayaan” selama ini, mempunyai arti yang sama. Sesungguhnya kedua istilah itu, memiliki arti yang berbeda (Koentjaraningrat, 2000).
Sedangkan Masinambow (1997:6) mengungkapkan, “budaya” ditekankan pada pengertian tingkah laku atau pola dari perilaku, kebiasaan, atau nilai dalam sistem nilai. Lebih khususnya “budaya” dapat diartikan sebagai sebuah cara hidup tertentu yang terlihat pada kehidupan masyarakatnya. Sedangkan “kebudayaan” lebih kepada keseluruhannya (termasuk mengacu pada budaya), yaitu kepada semua aspek baik itu kesenian, organisasi sosial, mata pencaharian, bahasa, dan religi yang telah terintegrasi berdasarkan suatu pola keterikatan yang memberikan corak khas pada masyarakat yang bersangkutan (Masinambow, 1997).
Budaya pendidikan Thailand tergolong sebagai “budaya prestasi”, yang merupakan sebuah bentuk budaya dari sekolah atau universitas yang telah menjadi poin penting pada setiap sekolah. Berdasarkan pengertian dari Mc. Clleland, motivasi ini menjadi bagian yang paling krusial dalam dunia pendidikan, yaitu motivasi berprestasi, dimana seorang siswa cenderung berjuang untuk mencapai cita-citanya demi meraih kesuksesan atau memilih sebuah kegiatan yang berorientasi pada tujuan utamanya sukses atau gagal (Garliah, 2005).
Menurut Fernald dan Fernald (1999) bahwasanya ada beberapa hal yang sangat berpengaruh akan timbulnya budaya motivasi berprestasi, antara lain keluarga, kebudayaan, konsep diri, jenis kelamin, dan pengakuan prestasi (Garliah, 2005). Aspek-aspek inilah yang terlihat dari mahasiswa Thailand yang selama ini dilihat oleh penulis.


Mari kita ekspos secara bersama budaya pendidikan yang masuk kriteria memiriskan, antara lain :
Pertama, tentu kita akan bahas budaya pendidikan, yaitu seragam. Mahasiswa S1 di Thailand, semuanya diwajibkan berpakaian seragam layaknya siswa Junior or Senior High School yang setiap hari pergi ke sekolah mengenakan seragam. Perlu diketahui, bahwasanya dengan berseragamlah, mahasiswa akan terlihat lebih disiplin, tertib, dan lebih menghormati peraturan kampus. Seragam juga dapat sebagai identitas dari sebuah peradaban pendidikan yang berkelas akan kualitasnya.
Budaya kedua,ialah betapa hormatnya para mahasiswa kepada dosen-dosennya. Mahasiswa di Thailand sangatlah menjunjung tinggi perilaku santunnya kepada dosen dan seniornya. Perilaku saling hormat menghormati, mudah sekali dijumpahi pada mahasiswa di kampus-kampus. Karena budaya seperti ini, yang patut dijadikan teladan untuk perkembangan pendidikan modern di masa depan.
Ketiga, budaya kerja keras para mahasiswanya, hal ini terlihat penuhnya meja-meja belajar di perpustakaan atau ruang belajar. Tak berhenti disitu saja, terkadang ada mahasiswa yang rela tertidur sejenak di meja belajarnya karena lelah dalam belajar dan akan melanjutkan kembali belajarnya setelah sadar dari mimpi pendeknya.


Perjuangan dalam meraih mimpi ini, telah tertanam pada mahasiswa Thailand. Waktu sangat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk hasil belajar yang membanggakan. Disiplin waktu merupakan budaya yang terakhir terkuak sangat menyayat hati dalam tulisan pendek ini, menengok jam kerja suttle bus saja, membuat geleng-geleng kepala. Entah apa yang dikerjakan oleh para mahasiswa hingga terkadang mereka rela pulang sampai malam hingga mendapatkan jadwal bus terakhir. Salah satunya kampusnya, yaitu KMUTT (King Mongkut’s University of Technology Thonburi), tepatnya Department of Biotechnology of Faculty of Biotechnology and Technology yang dimana jadwal suttle bus-nya paling akhir jam 21.00.
Berdasarkan pengalaman penulis, ternyata mahasiswa KMUTT yang kampusnya di kompleks fakultas tersebut, tidak sedikit yang pulang larut malam, bekerja di laboratoriumnya untuk mengerjakan proyeknya, baik itu penelitian tesis atau proyek bersama dengan Professornya. Jarak laboratorium dengan pusat universitas membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan suttle bus. Tapi bagi mereka rutinitas seperti itu, telah mengajarkan bahwa kehidupan di masa muda perlu bekerja keras memeras keringat untuk masa depan yang cerah.
Semangat juang selalu tersingkap dari raut wajah mahasiswa yang belajar di kampus-kampus Thailand. Budaya yang sepatutnya disebarluaskan ke seluruh penjuru negara-negara ASEAN. Budaya yang mengkhawatirkan ini, selayaknya menjadi perenungan kita semua untuk selalu menggunakan waktu sebaik dan berjuang semaksimal mungkin. Budaya prestasi ini, sekiranya sungguh menusuk hati bagi mereka yang masih belum memaksimalkan waktu belajarnya selama ini. Akankah kita bisa mengimitasi budaya pendidikan Thailand?


DAFTAR PUSTAKA
GARLIAH, L. N., F.K. 2005. Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Motivasi Berprestasi. Jurnal Psikologia, 1.
KOENTJARANINGRAT 2000. Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta, Jakarta, Indonesia, PT. Rineka Cipta.
MASINAMBOW, E. K. M. 1997. Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia, Jakarta, Indonesia, Yayasan Obor Indonesia.


eka2Nama : Ekha Rifki Fauzi
Status : Mahasiswa Chulalongkorn University, Thailand
Pendidikan : Master Degree
Alumni : Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang

Comments

comments